Sunday, 4 July 2010

Berpikir Positif, Bersikap Optimistis

Berpikir Positif, Bersikap Optimistis

Oleh: Anies Baswedan*

Keluhan dan pesimisme adalah kewajaran pada hari ini. Begitu Indonesia menjadi topik pembicaraan, maka lebih sering Indonesia dipandang dari sisi negatif. Indonesia penuh dengan kegagalan, deretan kesemrawutan, dan kekurangan yang tanpa habis. Lihat deretan seminar dan diskusi, baik di hotel berbintang maupun di kampus-kampus, atau obrolan rakyat di ruang keluarga hingga dengan obrolan di warung kopi. Lihat berita di televisi, di sana padat dengan kabar buruk. Tanpa sadar kita lebih sering dan lebih suka membicarakan Indonesia dengan pandangan negatif.

Mengapa kita lebih suka memfokuskan pada kegagalan sambil mengabaikan kemajuan? Bangsa kita memiliki stok masalah yang luar biasa banyaknya. Apa saja yang kita bicarakan pasti di sana ditemukan masalah, pasti ada kekurangan. Berbicara kesejahteraan, maka kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan pada 2010 diperkirakan 32,7 juta. Berbicara pendidikan, maka kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa hampir 80 persen siswa Indonesia yang diukur dengan test of international math and science memiliki skor sangat rendah dan di bawah minimal. Berbicara tentang kesehatan, maka standar pelayanan kesehatan kita sangat rendah. Berbicara tentang lingkungan hidup, maka situasi kita memprihatinkan.

Tidak adakah keberhasilan di republik ini? Ada banyak, tapi kita tidak membicarakan. Saat republik ini didirikan, lebih dari 95 persen pendududuknya buta huruf. Bayangkan, puluhan juta manusia Indonesia sanggup memanggul senjata, sanggup mendorong revolusi, tapi tidak bisa menulis nama sendiri. Kita buta huruf secara kolosal. Hari ini rakyat Indonesia yang buta huruf tinggal sekitar 8 persen. Itu pun mayoritas adalah penduduk lanjut usia. Bangsa mana di dunia, yang rakyatnya sebesar ini dan setersebar ini, yang bisa memutarbalikan buta huruf total menjadi melek huruf total? Itu adalah pencapaian luar biasa. Itu adalah prestasi kolektif seluruh bangsa, bukan prestasi satu-dua pemerintahan. Hari ini hampir ke mana pun kita pergi, kita bisa berdialog dengan rakyat yang melek huruf. Lihat India, lebih dari 60 tahun merdeka dan 40 persen rakyatnya masih buta huruf.

Melek huruf adalah awal keberhasilan. Akses pada pendidikan berkualitas untuk setiap warga Indonesia adalah janji berikutnya yang harus dilunasi. Saya membayangkan suatu saat nanti jika kita ditanya tentang apa kekayaan Indonesia dan jawabnya bukan lagi melimpahnya minyak, tambang, gas, hutan, dan kekayaan, tapi jawabnya adalah ''manusia Indonesia''; saat itu menandai bahwa republik ini mulai masuk era kemajuan.

Dari sisi kesejahteraan, data Bank Indonesia 2007 menunjukan bahwa saat ini lebih dari 22,5 juta penduduk Indonesia bependapatan USD 6.000 per tahun. Bila itu dipandang sebagai pendapatan yang dinikmati oleh keluarga (dengan asumsi anggota keluarga itu 3-4 orang), perkiraan kasar menunjukan ada 75-90 juta penduduk Indonesia yang menikmati penghasilan 60 juta rupiah per tahun. Itu artinya hampir 3 kali lipat penduduk Malaysia atau hampir 18 kali lipat penduduk Singapura. Coba perhatikan, saat republik ini didirikan, kelompok masyarakat ini sama sekali tidak eksis. Kemiskinan dan keterbelakangan adalah pemandangan masa itu. Hari ini kemakmuran mulai hadir, tapi baru sebagian dan masih diiringi dengan ketimpangan, pada masa lalu ada kesan lebih merata dan sejajar karena memang rata-rata miskin. Apalagi, jumlah penduduk pada 1945 sekitar 70 juta, melonjak menjadi 240 juta dalam waktu 65 tahun; jumlah yang harus disejahterakan meningkat luar biasa.

Ironisnya, di dalam negeri kita berkeluh kesah, sementara di luar negeri kita dipandang dengan penuh decak kagum. Indonesia dinilai dunia sebagai negeri yang stabil, memiliki pertumbuhan ekonomi positif, dan mampu bangkit kembali setelah dihantam krisis keuangan pada 1997-1998. Prestasi ekonomi Indonesia inilah yang mengundang sebagian ekonom menempatkan Indonesia dalam kelompok kekuatan baru dunia: BRIIC (Brazil, Rusia, India, Indonesia, dan China).

Dua hal di atas adalah sekadar contoh bagaimana sesungguhnya kita bisa melihat fenomena di Indonesia secara positif. Sudut pandang positif bisa membulatkan hati kita bahwa kemajuan itu senyatanya terjadi di republik ini. Dengan kata lain, menilai situasi Indonesia harus juga melalui membandingkan antara Indonesia sekarang dan Indonesia dulu. Tidak hanya membandingkan realitas sekarang dengan kondisi ideal, atau dengan negara lain.

Kita perlu memperhatikan kemajuan dan keberhasilan. Melihat yang sudah dicapai, tidak hanya memperhatikan yang belum dicapai. Keseimbangan dan objektivitas bisa mendorong kita untuk memiliki optimisme. Apa lagi bila kita bisa secara cerdas membedakan antara sikap optimistis dan sikap mendukung pemerintah, serta membedakan sikap kritis dengan sikap pesimistis. Optimis terhadap bangsa tidaklah mendukung pemerintah. Sikap kritis justru harus dipertahankan, tapi sikap pesimistis harus dihapus dan jangan takut untuk optimistis.

Optimisme tersebut hanya ''modal awal''. Sikap itu mesti diikuti dengan semangat melakukan perubahan, pembaruan, dari semua level, dan di segala sektor masyarakat. Pandangan positif dan optimistis digandakan menjadi pandangan kolektif seluruh bangsa.

Coba tengok masa lalu. Ketika republik ini didirikan, para pemimpin memiliki seluruh persyaratan untuk pesimistis. Kemiskinan merata, kebodohan di mana-mana, kekerasan merebak, dan kekacauan juga terjadi di mana-mana. Negara tanpa anggaran. Tetapi, mereka memilih optimis. Mereka gandakan optimisme itu menjadi optimisme kolektif seluruh bangsa. Kombinasi antara integritas tinggi para pemimpin dan optimisme kuat menjadi pendorong kemajuan republik muda ini.

Bandingkan, hari ini kita memiliki banyak persyaratan untuk optimis. Tapi, kita sering memilih membicarakan kegagalan, bukan keberhasilan. Mengungkap yang belum dicapai, bukan yang sudah dicapai. Menuding yang salah-salah, bukan memperbanyak cerita sukses. Akibatnya, republik ini dirudung pesimisme. Republik ini mengalami defisit optimisme.

Kita harus merombak suasana itu. Pesimisme yang meruyak di mana-mana harus kita putar balikkan. Bersediakah kita berkaca dan menilai diri sendiri: apakah kita sudah bersikap positif dan optimistis? Jika belum, mari kita mulai membangun kembali nuansa positif dan optimistis itu. (ABW)

*) Penulis adalah rektor Universitas Paramadina dan ketua Gerakan Indonesia Mengajar
dari: http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=showpage&kat=7

Friday, 11 June 2010

Definisi Komunikasi dan Tingkatan Proses Komunikasi

Definisi Lasswell ini juga menunjukkan bahwa komunikasi itu adalah suatu upaya yang disengaja serta mempunyai tujuan. Definisi Gode, memberi penekanan pada proses penularanpemilikan, yaitu dari yang semula (sebelum komunikasi) hanya dimiliki oleh satu orang kemudian setelah komunikasi menjadi dimiliki oleh dua orang atau lebih.Definisi Barnlund, menekankan pada tujuan komunikasi, yaitu untuk mengurangi ketidakpastian, sebagai dasar bertindak efektif, dan untuk mempertahankan atau memperkuat ego.

Berdasarkan definisi-definisi tentang komunikasi tersebut di atas, dapat diperoleh gambaran bahwa komunikasi mempunyai beberapa karakteristik sebagai berikut

Komunikasi adalah suatu proses Komunikasi sebagai suatu proses artinya bahwa komunikasi merupakan serangkaian tindakan atau peristiwa yang terjadi secara berurutan (ada tahapan atau sekuensi) serta berkaitan satu sama lainnya dalam kurun waktu tertentu.

Komunikasi adalah suatu upaya yang disengaja serta mempunyai tujuan. Komunikasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar, disengaja, serta sesuai dengan tujuan atau keinginan dari pelakunya.

Komunikasi menuntut adanya partisipasi dan kerja sama dari para pelaku yang terlibat kegiatan komunikasi akan berlangsung baik apabila pihak-pihak yang berkomunikasi (dua orang atau lebih) sama-sama ikut terlibat dan sama-sama mempunyai perhatian yang samaterhadap topik pesan yang disampaikan.

Komunikasi bersifat simbolis Komunikasi pada dasarnya merupakan tindakan yang dilakukan dengan menggunakan lambang-lambang. Lambang yang paling umum digunakan dalam komunikasi antar manusia adalah bahasaverbal dalam bentuk kata-kata, kalimat, angka-angka atau tanda-tanda lainnya.

Komunikasi bersifat transaksional Komunikasi pada dasarnya menuntut dua tindakan, yaitu memberi dan menerima. Dua tindakan tersebut tentunya perlu dilakukan secara seimbang atau porsional.

Komunikasi menembus faktor ruang dan waktu Maksudnya adalah bahwa para peserta atau pelaku yang terlibat dalam komunikasi tidak harus hadir pada waktu serta tempat yang sama. Dengan adanya berbagai produk teknologi komunikasi seperti telepon, internet, faximili, dan lain-lain, faktor ruang dan waktu tidak lagi menjadi masalah dalam berkomunikasi.

Tingkatan Proses Komunikasi

Menurut Denis McQuail, secara umum kegiatan/proses komunikasi dalam masyarakat berlangsung dalam 6 tingkatan sebagai berikut :

Komunikasi intra-pribadi (intrapersonal communication Yakni proses komunikasi yang terjadi dalam diri seseorang, berupa pengolahan informasi melalui pancaindra dan sistem syaraf.Contoh : berpikir, merenung, menggambar, menulis sesuatu, dll.

Komunikasi antar-pribadi Yakni kegiatan komunikasi yang dilakukan secara langsung antara seseorang dengan orang lainnya.Misalnya percakapan tatap muka, korespondensi, percakapan melalui telepon, dsbnya.

Komunikasi dalam kelompok Yakni kegiatan komunikasi yang berlangsung di antara suatu kelompok. Pada tingkatan ini, setiap individu yang terlibat masing-masing berkomunikasi sesuai dengan peran dan kedudukannya dalam kelompok. Pesan atau informasi yang disampaikan juga menyangkut kepentingan seluruh anggota kelompok, bukan bersifat pribadi.Misalnya, ngobrol-ngobrol antara ayah, ibu, dan anak dalam keluarga, diskusi guru dan murid di kelas tentang topik bahasan, dsbnya.

Komunikasi antar-kelompok/asosiasi Yakni kegiatan komunikasi yang berlangsung antara suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Jumlah pelaku yang terlibat boleh jadi hanya dua atau beberapa orang, tetapi masing-masing membawa peran dan kedudukannya sebagai wakil dari kelompok/asosiasinya masing-masing.

Komunikasi Organisasi Komunikasi organisasi mencakup kegiatan komunikasi dalam suatu organisasi dan komunikasi antar organisasi.Bedanya dengan komunikasi kelompok adalah bahwa sifat organisasi organisasi lebih formal dan lebih mengutamakan prinsip-prinsip efisiensi dalam melakukan kegiatan komunikasinya.

Komunikasi dengan masyarakat secara luas Pada tingkatan ini kegiatan komunikasi ditujukan kepada masyarakat luas. Bentuk kegiatan komunikasinya dapat dilakukan melalui dua cara :Komunikasi massa Yaitu komunikasi melalui media massa seperti radio, surat kabar, TV, dsbnya.Langsung atau tanpa melalui media massa Misalnya ceramah, atau pidato di lapangan terbuka.

Bahan:
1 ekor ayam, potong-potong
2 lbr daun salam
2 cm lengkuas, memarkan
2 cm jahe, memarkan
1 sdt garam
200 ml air
3 sdm kecap manis
minyak untuk menggoreng

Haluskan:
5 siung bawang putih
10 bh bawang merah
5 bh cabai merah
3 bh cabai rawit
3 bh kemiri
1 sdt gula merah

Cara membuat:
1. Rebus ayam dalam 300 ml air, didihkan. Tambahkan daun salam, lengkuas, kecap manis, jahe, dan garam. Masak sampai matang, angkat.
2. Goreng ayam sampai setengah matang.
3. Tumis bumbu halus sampai matang. Tambahkan air, masukkan ayam. Masak sampai kuah mengental. Angkat, lalu hidangkan dengan taburan bawang goreng.

Untuk 6 orang